Perjuangan Anak Petani Sawit Sabah Malaysia Raih Pendidikan Lebih Baik lewat ADEM Repatriasi Kemendikdasmen

Program ADEM Repatriasi Kemendikdasmen membuka peluang bagi anak petani sawit di Sabah, Malaysia, menempuh pendidikan menengah di Tangerang. Mereka membawa mimpi besar, mulai jadi dokter hingga ahli robotik.

BERITA

Arsad Ddin

16 Juli 2025
Bagikan :

Murid Program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) berdialog dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti,  dalam Peluncuran Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) Ramah, di Jakarta,  Jumat (11/07/2025). (Foto: Dok. Puslapdik Dikdasmen).

Jakarta, HAISAWIT – Nurul Hidayah, anak petani kelapa sawit asal Sabah, Malaysia, menempuh perjalanan panjang demi menggapai pendidikan lebih baik lewat program ADEM Repatriasi dari Kemendikdasmen.

Remaja yang akrab disapa Dayah ini belajar di Community Learning Center (CLC) FGV Sahabat di Lahad Datu, Tawau, Malaysia. Lewat ADEM Repatriasi, ia kini berkesempatan melanjutkan pendidikan SMA di Tangerang, Banten.

Dayah mengaku punya mimpi besar yang ingin diwujudkan. Ia ingin melanjutkan kuliah kedokteran di Universitas Indonesia dan memberi manfaat untuk banyak orang.

“Saya ingin jadi dokter dan kuliah di Universitas Indonesia, saya ingin bisa membantu banyak orang lain untuk terus sehat dan kuat,” ujar Dayah, dikutip dari laman Puslapdik Dikdasmen, Rabu (16/07/2025).

Dayah bercerita tentang kondisi belajar di Sabah yang masih serba terbatas, termasuk jumlah guru yang sangat sedikit di tempatnya belajar.

“Di Sabah itu kekurangan guru, di CLC FGV tempat saya belajar, ada guru yang ngajar dari jam 6 pagi sampai jam 5 sore, ngajar SD juga SMP, setiap hari karena ngga ada guru lain,” tambahnya.

Perjalanan yang ditempuh Dayah menuju sekolah barunya juga bukan hal mudah. Dari Lahad Datu ke Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) saja memakan waktu panjang.

“Perjalanan saya luar biasa, dari FGV Sahabat ke SIKK itu 11 jam naik bis, terus terbang ke Kuala Lumpur baru ke Jakarta, butuh waktu 2 hari dari kota saya ke Jakarta,” katanya.

Selain Dayah, ada juga Mohamad Apil, anak petani sawit lain dari Beaufort, Sabah. Apil bercita-cita menjadi ahli robotik untuk memajukan teknologi Indonesia.

“Melalui robot, saya ingin Indonesia maju dan modern,” ucap Apil.

Program ADEM Repatriasi yang dijalankan Kemendikdasmen memberi ruang bagi anak-anak pekerja migran dan anak petani sawit asal Sabah untuk melanjutkan pendidikan menengah di Indonesia.

Dengan adanya program ini, sejumlah anak petani sawit dari daerah terpencil seperti Lahad Datu dan Beaufort kini bisa bersekolah di SMA di Tangerang dan daerah lain, meski sebelumnya harus menempuh perjalanan panjang dan menghadapi keterbatasan guru di daerah asal.***

Bagikan :

Artikel Lainnya