Buku sejarah perjalanan panjang sawit di Kalimantan Timur akan diterbitkan sebagai dokumentasi resmi dan refleksi masa depan. Selain itu, forum Sawit Dialog 2025 akan membahas tantangan kebun tua hingga peluang bioenergi.
Arsad Ddin
9 Juli 2025Buku sejarah perjalanan panjang sawit di Kalimantan Timur akan diterbitkan sebagai dokumentasi resmi dan refleksi masa depan. Selain itu, forum Sawit Dialog 2025 akan membahas tantangan kebun tua hingga peluang bioenergi.
Arsad Ddin
9 Juli 2025
Samarinda, HAISAWIT – Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur (Disbun Kaltim) bersama Forum Komunikasi Perkebunan Berkelanjutan (FKPB) mempersiapkan peluncuran buku sejarah sawit empat dekade dan agenda nasional bertajuk Sawit Dialog 2025.
Rapat persiapan berlangsung di Ruang Rapat Lantai II Kantor Disbun Kaltim, pada, Senin (070/7/2025). Acara tersebut diikuti pejabat eselon III lingkup Disbun Kaltim dan Dewan Pakar FKPB.
Kegiatan ini bertujuan mendokumentasikan perjalanan panjang industri sawit Kaltim, sekaligus menyusun arah kebijakan ke depan berbasis data valid dan refleksi sejarah.
“Perda RTRW No. 1 Tahun 2023 tidak secara eksplisit mencantumkan luasan lahan perkebunan, padahal realitas di lapangan menunjukkan banyak lahan pertanian dalam arti luas,” ujar Asmirilda, dikutip dari laman Disbun Kaltim, Rabu (09/07/2025).
Dalam rapat tersebut, Kepala Bidang Perkebunan Berkelanjutan itu juga menyampaikan perlunya pembaruan data luas lahan, jumlah perusahaan besar swasta, hingga kontribusi kemitraan.
Sementara itu, Ketua FKPB, Yus Alwi Rahman, menjelaskan pentingnya buku sejarah sawit empat dekade di Kaltim yang segera diterbitkan.
“Belum ada satu pun buku yang secara sistematis menggambarkan sejarah hampir lima dekade perkembangan sawit di Kaltim. Buku ini hadir sebagai refleksi dan panduan masa depan,” ucapnya.
Selain membahas buku, rapat juga mematangkan agenda Sawit Dialog 2025 yang rencananya digelar bulan ini. Forum tersebut akan mempertemukan pemangku kepentingan dari tingkat lokal hingga nasional.
“Sawit bukan hanya bicara ekspor dan devisa. Ini tentang masa depan kita, kedaulatan pangan, energi, dan lingkungan yang lestari. Kaltim harus siap memimpin dengan narasi baru, sawit yang cerdas, adil, dan berkelanjutan,” ungkap Asmirilda.
Buku ini disusun dengan pendekatan naratif dan analitis, memuat catatan sejarah, data statistik, hingga testimoni pelaku utama industri sawit.
Rapat persiapan juga membahas tantangan sektor hulu seperti kebun tua dan penurunan produktivitas, serta peluang program B50 dan Pelabuhan Maloy sebagai hub CPO Asia Pasifik.***