Pemerintah Kabupaten Kutai Timur menggerakkan pengembangan industri hilir sawit dan mendorong diversifikasi komoditas perkebunan sebagai strategi memperkuat ekonomi daerah berbasis potensi lokal.
Arsad Ddin
17 Juli 2025Pemerintah Kabupaten Kutai Timur menggerakkan pengembangan industri hilir sawit dan mendorong diversifikasi komoditas perkebunan sebagai strategi memperkuat ekonomi daerah berbasis potensi lokal.
Arsad Ddin
17 Juli 2025
Sangatta, HAISAWIT – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) mulai mengarahkan pengelolaan sektor perkebunan kelapa sawit ke arah industri hilir. Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat fondasi ekonomi daerah ke depan.
Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman menyampaikan pentingnya tidak hanya bergantung pada ekspor bahan mentah, tetapi mulai membangun kapasitas pengolahan produk turunan sawit di dalam daerah.
“Kita tidak boleh terus-menerus mengekspor bahan mentah. Kita harus mengembangkan industri hilir seperti minyak goreng, sabun, kosmetik, bahkan biodiesel dan produk farmasi. Itulah yang akan membuka lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan daerah,” ujar Ardiansyah, dikutip dari laman Pemkab Kutim, Kamis (17/07/2025).
Langkah awal dalam mendukung hilirisasi ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Dinas Perkebunan, Dinas Koperasi UMKM, 13 koperasi petani sawit, dan sejumlah perusahaan besar.
Acara penandatanganan MoU tersebut berlangsung di Hotel Royal Victoria, Sangatta, pada Selasa (15/7/2025). Kegiatan ini turut dihadiri para pemangku kepentingan dari kecamatan, desa, dunia usaha, serta perwakilan dari GIZ.
Dalam acara tersebut, sebanyak 614 petani sawit menerima Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB) dengan total luasan mencapai 1.434 hektare. Legalitas ini membuka peluang petani untuk menjalin kemitraan resmi dengan pabrik pengolahan.
Selain hilirisasi, Pemkab Kutim juga mendorong diversifikasi sektor perkebunan. Ardiansyah menyebut pentingnya membangun kekuatan ekonomi dari berbagai komoditas, terutama saat harga sawit sedang turun.
“Kita harus mulai membangun ekonomi yang tangguh. Kalau harga sawit jatuh, petani jangan ikut jatuh. Itulah pentingnya kita kembangkan komoditas lain,” ungkapnya.
Sejumlah komoditas seperti pisang, karet, kakao, lada, vanila, dan nanas turut dibina agar bisa naik kelas. Penguatan dilakukan melalui pelatihan, pembinaan, dan pengembangan koperasi petani.
Sementara itu, kawasan industri dan pelabuhan KIPI Maloy disiapkan menjadi pusat pengolahan industri sawit. Pemerintah berupaya menarik investor dengan insentif dan penyederhanaan regulasi.
“Lokasi dan infrastrukturnya strategis. Kita akan permudah regulasi, agar para pelaku usaha tertarik membangun pabrik pengolahan di sini,” ujar Ardiansyah.
Kerja sama antara PT Bimapalma Nugraha dan dua koperasi petani sawit juga difasilitasi melalui MoU. Pengiriman TBS dari anggota koperasi ke pabrik mitra telah berjalan sejak Maret 2025.***