
Ilustrasi Sawit (Foto: Arsad Ddin)
Medan, HAISAWIT – Sebuah tim peneliti Indonesia berhasil merancang sistem inovatif berbasis mikroba dan tumbuhan air untuk mengatasi limbah cair sawit dan gas beracun hidrogen sulfida (H₂S).
Dalam laporan David Kevin Handel Hutabarat yang dimuat di laman USU, inovasi ini lahir dari riset mendalam dan uji coba di laboratorium dengan pendekatan ramah lingkungan.
“Kami percaya, solusi untuk limbah industri bukan harus mahal atau rumit. Seringkali jawabannya ada di sekitar kita: mikroorganisme dan tumbuhan air yang selama ini kita anggap sepele,” ujar Bambang Trisakti, dikutip dari laman USU, Sabtu (12/07/2025).
Sistem tersebut memanfaatkan Thiobacillus sp., bakteri yang dapat mengoksidasi gas H₂S menjadi sulfat, dan Azolla microphylla sebagai tanaman air untuk fitoremediasi.
Dengan metode ini, air menyerap H₂S dari biogas dalam kolom isian vertikal, lalu dialirkan ke kolam kultur bakteri sebelum dimurnikan lebih lanjut oleh Azolla.
“Kami tidak ingin hanya menyelesaikan satu masalah dan menciptakan masalah baru. Sistem ini didesain agar siklusnya tertutup. Ya zero-waste,” jelas Bambang Trisakti dalam laporan tersebut.
Hasil pengujian menunjukkan efisiensi signifikan. Konsentrasi H₂S turun hingga 70% dalam sembilan jam dan mencapai penurunan hingga 83% setelah empat hari melalui proses fitoremediasi Azolla.
“Azolla bukan cuma penyerap polutan, ia juga produsen oksigen, penstabil pH, dan sumber pupuk alami. Dalam satu kolam kecil, Anda mendapatkan fungsi dari tiga teknologi sekaligus,” ungkap Bambang Trisakti.
Air limbah yang semula memiliki kandungan BOD, COD, dan zat padat terlarut tinggi berhasil dimurnikan hingga mendekati netral. Air tersebut dapat digunakan ulang sebagai air teknis atau bahan baku pupuk cair.
Selain ramah lingkungan, biaya produksinya hanya sekitar Rp54,8 per liter, jauh lebih rendah dibanding metode kimia, dengan potensi nilai ekonomi mencapai Rp709 per liter.
“Kami ingin membuktikan bahwa teknologi ramah lingkungan tidak harus mahal dan eksklusif. Dengan pendekatan berbasis hayati seperti ini, pabrik kelapa sawit kecil sekalipun bisa mengadopsinya,” ucap Bambang Trisakti.
David Kevin Handel Hutabarat mencatat, riset ini juga memperkuat konsep industri sawit berkelanjutan yang tidak hanya mengurangi polusi, tetapi juga menghasilkan biofertilizer bernilai jual.
Data riset menunjukkan, sistem biologis ini mampu menjawab tantangan limbah sawit secara praktis tanpa menambah beban lingkungan, sejalan dengan prinsip keberlanjutan yang semakin dibutuhkan industri sawit nasional.***