
Dok. YouTube Hai Sawit TV
Jakarta, HAISAWIT – Praktisi dan profesional industri kelapa sawit mendesak perbaikan sistem data produksi nasional dalam acara Obrolan Profesional Sawit Indonesia pada Rabu, 11 Desember 2024, sebagai syarat mutlak penguatan bursa domestik.
Keterbukaan informasi mengenai stok dan volume panen harian menjadi variabel penentu bagi investor maupun pelaku usaha. Akurasi data tersebut berfungsi menciptakan mekanisme pasar yang sehat serta meningkatkan kredibilitas perdagangan sawit Indonesia.
Senior Vice President (SVP) PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN), Arif Budiman, memaparkan bahwa fungsi bursa sebagai instrumen pembentuk harga sangat bergantung pada kecepatan distribusi informasi terkini dari seluruh produsen ke publik.
“Bursa akan berjalan dengan baik kalau kita memiliki data secara up to date. Nah di kita ini mohon maaf data produksi aja enggak up to date kadang-kadang delay.” ujar Arif, dikutip dari YouTube Hai Sawit TV, Jum'at (13/02/2026).
Arif menambahkan bahwa pembangunan bursa komoditas nasional bukan sekadar urusan teknis perdagangan harian. Hal ini merupakan perwujudan kedaulatan ekonomi negara agar Indonesia memiliki kendali penuh atas nilai jual komoditas unggulan sendiri.
“Pada saat kita ingin mendirikan bursa, kita bicara merah putih, kita bicara nasional, kalau ini bisa kejadian ya kita salah satunya harus memiliki data yang akurat.” ujarnya memaparkan visi kemandirian pasar sawit nasional.
Langkah penguatan bursa sawit memerlukan konsolidasi antara pemilik lahan, pabrik pengolahan, hingga eksportir. Koordinasi lintas sektor menjadi kunci agar setiap angka yang keluar mencerminkan kondisi lapangan yang sebenarnya tanpa rekayasa.
Beberapa poin kendala yang muncul dalam sistem pendataan saat ini meliputi:
- Keterlambatan pelaporan angka produksi harian dari perkebunan rakyat.
- Ketidaksamaan frekuensi pembaruan data antara lembaga pemerintah dan asosiasi pengusaha.
Commercial dan Logistic Head PT Dharma Agung Wijaya (DAW Group), Muhammad Fadly, membandingkan efisiensi sistem informasi di Malaysia yang jauh lebih responsif dan tepat waktu dalam merilis angka fundamental industri.
“Jadi kalau misal untuk data produksi nasional kita itu GAPKI itu di tahun 2024 baru rilis di Agustus, dia delay 2 bulan. Sedangkan Malaysia kemarin saya lihat per tanggal 10 mereka sudah rilis kalau produksi mereka itu turun.” ujarnya.
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) serta pemangku kepentingan terkait perlu menyelaraskan periode rilis data. Kesenjangan waktu pelaporan hingga dua bulan menyebabkan pelaku pasar kehilangan momentum dalam mengambil keputusan strategis.
Integrasi teknologi digital pada rantai pasok diharapkan mampu memangkas birokrasi pelaporan produksi dari tingkat hulu. Sistem yang terintegrasi secara otomatis akan memastikan posisi tawar bursa Indonesia tetap kompetitif di pasar global.***