
Ilustrasi Buah Sawit - HaiSawit
Mamuju, HAISAWIT – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Barat mencatat pertumbuhan ekonomi daerah mencapai 5,36 persen sepanjang tahun 2025 akibat lonjakan produksi kelapa sawit yang mendongkrak sektor riil dan industri.
Angka pertumbuhan kumulatif dari triwulan I hingga triwulan IV tahun 2025 tersebut melampaui capaian periode sebelumnya. Pada tahun 2024, ekonomi wilayah ini tercatat hanya tumbuh sebesar 4,76 persen secara tahunan.
Kepala BPS Provinsi Sulawesi Barat, Suri Handayani, memaparkan data tersebut pada Kamis (05/02/2026). Ia menjelaskan bahwa peningkatan produksi pada sektor pertanian, perkebunan, industri, dan perdagangan menjadi mesin utama penggerak ekonomi.
Sektor perkebunan menunjukkan performa sangat positif, terutama didorong oleh komoditas unggulan daerah. Aktivitas panen dan perluasan hasil produksi kelapa sawit memberikan kontribusi paling signifikan terhadap kenaikan produk domestik regional bruto.
Pihak otoritas statistik menjelaskan bahwa tren positif ini didukung oleh optimalisasi luas lahan serta kondisi iklim yang mendukung produktivitas. Fokus utama pertumbuhan tertuju pada subsektor perkebunan yang mendominasi struktur ekonomi lokal.
Berikut adalah beberapa fakta penting mengenai capaian ekonomi Sulawesi Barat berdasarkan laporan resmi Badan Pusat Statistik sepanjang tahun 2025:
- Pertumbuhan ekonomi kumulatif mencapai 5,36 persen.
- Peningkatan produksi padi terpantau melalui hasil Kerangka Sampel Area (KSA).
- Kenaikan produksi Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit memicu aktivitas industri.
- Industri pengolahan Crude Palm Oil (CPO) mengalami ekspansi kapasitas produksi.
- Komoditas minyak atsiri ikut menyumbang pertumbuhan pada subsektor perkebunan semusim.
Suri Handayani memberikan penjelasan mendalam mengenai peran krusial komoditas perkebunan dalam struktur ekonomi daerah tersebut. Ia menggarisbawahi posisi strategis kelapa sawit sebagai tulang punggung pendapatan masyarakat serta penggerak roda ekonomi.
“Peningkatan produksi tanaman perkebunan, khususnya kelapa sawit, menjadi salah satu faktor utama. Komoditas ini merupakan produksi unggulan di Sulawesi Barat, selain cengkeh dan kopi,” ujar Suri, dikutip dari rri.co.id, Minggu (08/02/2026).
Peningkatan volume Tandan Buah Segar (TBS) memberikan dampak langsung pada operasional pabrik pengolahan di wilayah tersebut. Sektor industri pengolahan mengalami kenaikan output signifikan, khususnya untuk produk minyak sawit mentah beserta berbagai produk turunannya.
Meskipun beberapa komoditas perkebunan lain mengalami kontraksi yang menahan laju pertumbuhan, performa kelapa sawit tetap stabil. Kestabilan ini menjaga momentum penguatan sektor riil sehingga mampu menutupi penurunan pada komoditas yang sedang lesu.
Keterkaitan kuat antara aktivitas di hulu perkebunan dan hilirisasi pada industri pengolahan menjadi penopang utama pertumbuhan. Sinergi ini memperkuat struktur ekonomi Sulawesi Barat dalam menghadapi fluktuasi harga komoditas global sepanjang tahun berjalan.
BPS mencatat bahwa selain kelapa sawit, komoditas penghasil minyak atsiri juga mencatatkan kenaikan produksi. Data menunjukkan bahwa diversifikasi pada subsektor perkebunan semusim turut memberikan andil dalam menjaga stabilitas angka pertumbuhan ekonomi daerah.
Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat pada triwulan IV tahun 2025 menutup rangkaian kinerja positif sepanjang tahun. Fokus pada peningkatan produksi komoditas unggulan berhasil menempatkan sektor perkebunan sebagai kontributor terbesar dalam struktur ekonomi provinsi tersebut.***