Adu Efisiensi Minyak Nabati, Mengapa Dunia Berpaling ke Sawit?

Minyak sawit kini menempati posisi puncak pasar nabati dunia dengan menguasai 40 persen pangsa global. Angka konsumsi per kapita meningkat signifikan dibandingkan era 1965 saat minyak kedelai masih mendominasi struktur kebutuhan industri pangan.

BERITA

Arsad Ddin

8 Februari 2026
Bagikan :

Gambar Illustrasi Buah Sawit - Hai Sawit

Jakarta, HAISAWIT – Perubahan peta kekuatan minyak nabati global menunjukkan pergeseran drastis sejak tahun 1965 ketika minyak kedelai masih mendominasi pasar internasional sebelum akhirnya posisi puncak tersebut diambil alih industri sawit.

Dominasi tersebut berakar pada ketersediaan sumber daya serta preferensi sejarah berbagai kawasan yang sangat bergantung terhadap minyak kedelai sebagai pilar utama ketahanan pangan dan kebutuhan industri dunia kala itu.

Dilansir dari laman bpdp.or.id, Minggu (08/02/2026), pada tahun 1965 minyak kedelai menguasai 61 persen konsumsi dunia, disusul minyak rapeseed 23 persen, minyak sawit 16 persen, serta minyak bunga matahari sebesar satu persen.

Kondisi pasar saat ini telah berbalik sepenuhnya dibandingkan era enam dekade silam melalui pertumbuhan pesat ketersediaan pasokan minyak sawit yang didukung harga relatif lebih rendah bagi konsumen di berbagai negara.

Struktur konsumsi empat minyak nabati utama mengalami perubahan signifikan pada tahun 2021 dengan rincian posisi pangsa pasar sebagai berikut:

  • Minyak sawit menempati posisi pertama dengan pangsa 40 persen.
  • Minyak kedelai berada pada posisi kedua sebesar 33 persen.
  • Minyak rapeseed memberikan kontribusi sebesar 17 persen.
  • Minyak bunga matahari mencatatkan angka sebesar 11 persen.

Pusat Asosiasi Strategis Pertanian Indonesia (PASPI) mencatat bahwa peran penyedia bahan pangan merupakan fungsi tertua serta utama bagi komoditas kelapa sawit dalam lintasan panjang sejarah peradaban manusia hingga masa kini.

Peningkatan penggunaan komoditas ini terlihat sangat nyata pada wilayah Amerika Serikat (AS) yang mencatatkan kenaikan porsi pemakaian dari semula hanya tiga persen menjadi 10 persen selama periode tahun 1980 hingga 2021.

Uni Eropa (UE) juga menunjukkan tren serupa meski minyak rapeseed sempat merajai pasar, namun penggunaan minyak sawit meningkat dari 24 persen menjadi 29 persen berdasarkan data Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA).

Data United States Department of Agriculture (USDA) tahun 2022 menunjukkan bahwa Tiongkok mengalami kenaikan konsumsi sawit secara konsisten hingga menyentuh angka 19 persen pada tahun 2021 dari posisi awal sembilan persen.

Pertumbuhan penduduk serta perkembangan ekonomi di India memicu lonjakan permintaan yang membuat pangsa minyak sawit naik dari 37 persen menjadi 44 persen, mengungguli minyak kedelai dan juga minyak rapeseed.

Berikut adalah data konsumsi per kapita minyak sawit untuk kebutuhan pangan (food use) berdasarkan olahan data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) serta Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD):

  • Periode 1991-2000 mencapai 2,2 kilogram per kapita.
  • Periode 2001-2011 naik menjadi 2,8 kilogram per kapita.
  • Tahun 2019 mencapai angka 18 kilogram per kapita secara global.

Produktivitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan jenis tanaman nabati lainnya menjadikan kelapa sawit sebagai pilihan paling realistis bagi kebutuhan dunia karena karakteristik operasional lahan yang jauh lebih efisien dan berkelanjutan.***

Bagikan :

Artikel Lainnya