DBH Sawit Gorontalo Anjlok ke Rp1,7 Miliar, DPRD Sidak Operasional PT Loka Indah Lestari

Tim Reses DPRD Provinsi Gorontalo meninjau operasional PT Loka Indah Lestari di Kabupaten Pohuwato. Kunjungan lapangan ini bertujuan menelusuri penyebab penurunan Dana Bagi Hasil sawit yang merosot hingga angka Rp1,7 miliar pada 2025.

BERITA

Arsad Ddin

9 Februari 2026
Bagikan :

Ilustrasi Buah Sawit - HaiSawit


Gorontalo, HAISAWIT – Tim Reses Daerah Pemilihan (Dapil) VI Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Gorontalo mengunjungi pabrik PT Loka Indah Lestari di Kabupaten Pohuwato, Selasa (03/02/2026), guna menelusuri penyebab kemerosotan Dana Bagi Hasil (DBH) kelapa sawit.

Penurunan pendapatan daerah dari sektor perkebunan tersebut terjadi secara signifikan selama tiga tahun terakhir. Data legislatif menunjukkan angka bagi hasil yang semula mencapai miliaran rupiah kini menyusut hingga menyentuh titik terendah pada periode 2025.

Anggota Tim Reses Dapil VI DPRD Provinsi Gorontalo, Anas Yusuf, memimpin peninjauan lapangan tersebut untuk mendapatkan penjelasan teknis mengenai operasional perusahaan. Ia memaparkan rincian angka bagi hasil yang fluktuatif di hadapan jajaran manajemen pabrik.

“Kunjungan ini kami lakukan untuk melihat secara langsung bagaimana operasional pabrik sawit ini, terutama kaitannya dengan penurunan dana bagi hasil yang setiap tahun terus menurun,” ujar Anas, dikutip dari rri.co.id, Senin (09/02/2026).

Berdasarkan catatan resmi, DBH kelapa sawit pada tahun 2023 berada di angka Rp3,5 miliar. Namun, jumlah tersebut merosot menjadi Rp2,5 miliar pada 2024 dan menyisakan Rp1,7 miliar saja pada pendataan terakhir tahun 2025.

Legislator asal Pohuwato dan Boalemo ini mengumpulkan informasi terkait hambatan produksi yang dialami pihak swasta. Sejumlah faktor internal perusahaan menjadi fokus utama dalam diskusi yang berlangsung di area Kecamatan Popayato Barat tersebut.

Beberapa poin penting hasil pertemuan tersebut antara lain:

  • Realisasi DBH sawit tahun 2025 turun hingga 50 persen jika dibandingkan perolehan pada tahun 2023.
  • Faktor cuaca ekstrem menjadi kendala utama yang menghambat produktivitas tandan buah segar di area perkebunan.
  • Perusahaan melakukan perombakan besar pada struktur tim ahli guna memperbaiki performa tanaman di lapangan.
  • Pembangunan unit pengolahan baru direncanakan guna meningkatkan nilai tambah produk mentah menjadi barang jadi.

“Tadi pihak perusahaan menyampaikan bahwa penurunan dana bagi hasil ini berkaitan dengan turunnya produksi akibat faktor iklim dan hasil sawit yang menurun. Mereka sudah melakukan evaluasi internal, termasuk mengganti personel agronomi pada tahun 2025, dan saat ini menunggu hasilnya di 2026 dengan target produksi 1 juta ton CPO serta rencana pembangunan pabrik minyak kelapa,” jelas Anas Yusuf.

Pihak manajemen PT Loka Indah Lestari mengakui adanya kendala teknis dalam mempertahankan volume panen. Penggantian personel di bidang agronomi menjadi langkah strategis untuk mengejar ketertinggalan target produksi pada periode berjalan tahun ini.

Rencana pembangunan pabrik minyak kelapa menjadi bagian dari upaya diversifikasi usaha. Langkah tersebut bertujuan agar produk Crude Palm Oil (CPO) dapat segera diolah di lokasi yang sama sebelum dipasarkan ke luar wilayah.

Target produksi sebesar 1 juta ton CPO pada 2026 menjadi barometer keberhasilan evaluasi yang telah dijalankan. Keberhasilan pencapaian volume ini menjadi variabel kunci dalam menentukan besaran bagi hasil bagi pemerintah provinsi maupun kabupaten.

Tim Reses Dapil VI DPRD Provinsi Gorontalo menjadwalkan pemantauan berkala terhadap realisasi pembangunan pabrik baru tersebut. Fokus utama saat ini adalah memastikan pemulihan produksi kelapa sawit demi menstabilkan kembali pendapatan asli daerah yang sempat tergerus.***

Bagikan :

Artikel Lainnya