PT Salim Ivomas Pratama Tbk Kelola 241.208 Hektar Sawit dengan Kapasitas Olah TBS 7,2 Juta Ton

PT Salim Ivomas Pratama Tbk mengelola 241.208 hektar lahan sawit inti hingga akhir 2024. Perusahaan mengoperasikan 27 pabrik dengan kapasitas pengolahan 7,2 juta ton per tahun guna mendukung produksi minyak sawit mentah nasional.

BERITA

Arsad Ddin

8 Februari 2026
Bagikan :

Dok. Instagram @simp_career


Jakarta, HAISAWIT – PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) mencatatkan penguasaan lahan kelapa sawit seluas 241.208 hektar hingga akhir Desember 2024 guna memperkuat posisi perusahaan sebagai pemain utama dalam industri minyak sawit mentah.

Divisi Perkebunan perusahaan berfokus pada kegiatan pembudidayaan kelapa sawit sebagai sumber pendapatan utama. Mayoritas penghasilan berasal dari penjualan Minyak Sawit Mentah atau Crude Palm Oil (CPO) serta produk turunan lainnya secara luas.

Dilansir dari laman simp.co.id, Minggu (08/02/2026), perusahaan memiliki total lahan tertanam inti sebesar 288.649 hektar dengan porsi tanaman kelapa sawit mencapai 84 persen atau seluas 241.208 hektar dari keseluruhan total luas lahan.

Sektor perkebunan ini juga mencakup pengelolaan lahan komoditas lain di luar kelapa sawit. Adapun rincian pembagian penggunaan lahan tertanam inti milik SIMP pada periode laporan tersebut mencakup beberapa jenis tanaman komoditas komersial:

  • Lahan karet seluas 16.231 hektar atau mencakup 6 persen dari total area.
  • Tanaman tebu seluas 13.583 hektar atau sebesar 5 persen dari total area.
  • Sisanya dialokasikan untuk tanaman hutan tanaman industri, kakao, serta tanaman teh.

SIMP juga menjalankan skema kemitraan plasma guna mendukung operasional perkebunan rakyat. Total luas kemitraan plasma untuk komoditas kelapa sawit dan karet tersebut mencapai angka signifikan yaitu seluas 91.523 hektar lahan.

Kegiatan operasional pengolahan didukung oleh keberadaan 27 pabrik kelapa sawit. Fasilitas ini memiliki total kapasitas pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) sebesar 7,2 juta ton per tahun untuk memenuhi target produksi tahunan.

Infrastruktur pengolahan lain juga dioperasikan untuk komoditas non-sawit guna diversifikasi produk. Fasilitas tersebut mencakup tiga lini produksi karet remah, dua lini produksi karet lembaran, serta dua pabrik pengolahan dan penyulingan gula.

Selain itu, perusahaan mengelola satu pabrik kakao dan satu pabrik teh. Seluruh fasilitas manufaktur ini berfungsi mengolah hasil panen dari lahan inti maupun lahan plasma menjadi produk siap jual ke pasar.

Pengembangan produktivitas tanaman didukung oleh keberadaan dua pusat Penelitian dan Pengembangan (Litbang). Pusat riset tersebut adalah Sumatra Bioscience (SumBio) di Sumatera Utara dan PT Sarana Inti Pratama (SAIN) di Riau.

Kedua pusat Litbang melakukan program riset ekstensif guna meningkatkan kinerja hasil panen. Fokus penelitian meliputi ketahanan tanaman terhadap gangguan luar, pengendalian hama, penyakit, serta perbaikan praktik manajemen perkebunan secara teknis dan saintifik.

Fasilitas riset khusus juga tersedia untuk komoditas tebu di wilayah Sumatera Selatan. Keberadaan pusat riset ini menunjang optimasi produksi gula agar mencapai standar kualitas yang ditetapkan oleh manajemen Divisi Perkebunan perusahaan.

Penerapan hasil penelitian dari SumBio dan SAIN diimplementasikan langsung pada lahan inti maupun plasma. Langkah faktual ini bertujuan menjaga stabilitas pasokan bahan baku minyak sawit mentah bagi kebutuhan industri pangan dan energi.***

Bagikan :

Artikel Lainnya