Nasib Petani Sawit Pandeglang 15 Tahun Merawat Kebun Namun Sejahtera Masih Jadi Mimpi

Aliyudin memaparkan persoalan rendahnya hasil panen Tandan Buah Segar petani Pandeglang yang hanya mencapai 3 ton per hektar. Masalah bibit tidak standar serta kelangkaan pupuk kimia memperhambat peningkatan ekonomi masyarakat pekebun di Banten.

BERITA

Arsad Ddin

9 Februari 2026
Bagikan :

Gambar Ilustrasi Kebun Kelapa Sawit - Hai Sawit


Jakarta, HAISAWIT – Petani kelapa sawit asal Pandeglang, Aliyudin, membeberkan realita rendahnya produktivitas kebun rakyat saat mengisi acara Hai Podcast Sawit pada 5 Maret 2024 yang ditayangkan kembali melalui saluran digital.

Perjalanan mengelola kebun selama 15 tahun belum membuahkan kemakmuran bagi petani swadaya akibat keterbatasan akses pengetahuan teknis budidaya. Kondisi ini membuat hasil panen sulit mengejar standar produksi milik perusahaan besar.

Aliyudin mengungkapkan bahwa minimnya motivasi dan edukasi lapangan menjadi penghambat utama bagi para pekebun mandiri di wilayah Banten untuk mencapai taraf hidup yang lebih layak dan mandiri secara ekonomi.

“Kalau dibilang sejahtera masih jauh, karena di sawit khususnya di daerah kami itu masih kurang pengetahuan terhadap bagaimana caranya menanam sawit yang baik.” ujar Aliyudin, dikutip dari YouTube Hai Sawit TV, Senin (09/02/2026).

Selain persoalan teknis budidaya, para petani menghadapi tantangan berat berupa biaya operasional yang melonjak tinggi. Beban tersebut diperparah oleh situasi pasar sarana produksi yang tidak stabil dan membebani dompet petani.

“Kendala besar kami adalah harga pupuk kimia yang tidak terjangkau, sudah naik langka lagi, sehingga hasil buah TBS kurang karena mengandalkan pupuk seadanya.” kata pengurus Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) tersebut.

Saat ini, total luas lahan petani di Pandeglang mencapai 7.000 hektar yang tersebar di berbagai kecamatan. Sebagian besar tanaman merupakan hasil penanaman swadaya yang dilakukan masyarakat secara mandiri tanpa bantuan bibit unggul.

  • Rendahnya produktivitas rata-rata hanya 3 sampai 4 ton per hektar.
  • Penggunaan bibit tidak bersertifikat atau bibit cabutan.
  • Ketergantungan pada pupuk subsidi yang sering menghilang dari pasar lokal.

Pemerintah daerah diminta memberikan perhatian lebih serius melalui Dinas Pertanian untuk menyediakan tenaga ahli di lapangan. Kehadiran pendamping teknis dinilai vital guna memperbaiki tata kelola kebun rakyat yang sudah menua.

“Kami berharap ada pendamping khusus untuk pertanian sawit karena Pandeglang ini begitu dekat dengan ibu kota tapi kemajuannya kalah jauh.” pungkasnya saat memberikan pernyataan penutup pada diskusi sesi podcast tersebut.

Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) mulai menyalurkan bantuan melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Sebanyak 24 anak petani setempat juga mendapatkan fasilitas beasiswa pendidikan untuk memperkuat Sumber Daya Manusia (SDM).

Lahan seluas 2.700 hektar peninggalan program Perkebunan Inti Rakyat (PIR) tahun 1982 kini masuk dalam daftar prioritas peremajaan. Langkah ini bertujuan meningkatkan kapasitas produksi Tandan Buah Segar (TBS) di masa depan.***

Bagikan :

Artikel Lainnya