Ganoderma Jadi Musuh Nomor Satu Sawit Indonesia, Kerugian Tembus Triliunan Rupiah

Cendawan Ganoderma memicu kerugian industri sawit Indonesia hingga 7,8 triliun rupiah per tahun. Penyakit tular tanah ini menyebabkan kematian pohon secara cepat pada area perkebunan yang mengabaikan prosedur sanitasi total saat pembersihan lahan.

BERITA HAI EDUKASI SAWIT

Arsad Ddin

14 Februari 2026
Bagikan :

Dok. YouTube Hai Sawit TV

Jakarta, HAISAWIT – Cendawan Ganoderma kini menempati posisi puncak ancaman penyakit mematikan bagi industri kelapa sawit nasional karena memicu kematian pohon secara masal serta kerugian ekonomi mencapai triliunan rupiah setiap tahun.

Pakar serta praktisi perlindungan tanaman mengungkap bahwa akumulasi inokulum pada area perkebunan menjadi faktor utama penyebab ledakan serangan yang sulit terbendung saat memasuki siklus tanam generasi kedua maupun ketiga saat ini.

Pakar Proteksi Tanaman, Henny Hendarjati, memberikan penjelasan mendalam mengenai tingginya kasus serangan pada wilayah sentra perkebunan tua yang cenderung mengabaikan prosedur sanitasi total saat melakukan pembersihan lahan sebelum proses penanaman dimulai.

“Kenapa Sumatera Utara Ganoderma banyak enggak selesai-selesai? Karena inokulumnya dibiarin, dia tidak melakukan apa-apa. Ketika replanting atau peremajaan kembali, bibitnya tidak dilindungi, tidak ditreatment.” ujar Henny, dikutip dari YouTube Hai Sawit TV, Sabtu (14/02/2026).

Mantan Senior Manajer Astra Agro Lestari (AAL) tersebut menambahkan bahwa kecepatan kerusakan pohon sangat bergantung pada interaksi antara virulensi jamur, kondisi lingkungan yang lembap, serta tingkat ketahanan material bibit.

“Kalau Ganoderma invasif, lingkungan mendukung, dan inangnya si sawitnya itu rentan, cepat saja, 2 tahun saja bisa itu (tumbang).” ungkap Henny menjelaskan keganasan serangan jamur tular tanah yang menghancurkan struktur batang.

Ancaman ini berpotensi memicu kematian populasi sawit secara drastis jika pengelola kebun tidak segera menerapkan sistem manajemen Ganoderma terintegrasi. Fakta teknis lapangan menunjukkan beberapa indikator tingkat kerusakan yang sangat nyata:

  • Penurunan produksi TBS mencapai 67 persen pada tanaman berumur 15 tahun.
  • Mortalitas pohon mencapai 5,5 persen per tahun pada bibit yang tidak memiliki sifat moderat tahan.
  • Total kerugian nasional Indonesia diperkirakan menyentuh angka 7,8 triliun rupiah per tahun.

Tingginya angka kematian pokok sawit secara langsung menguras modal operasional perusahaan maupun petani swadaya karena biaya kehilangan potensi produksi setara dengan investasi pengembangan lahan baru yang cukup luas.

“Satu hektar kalau hitungan kejadian infeksinya 7%, itu sama dengan uang kalau kita bisa buat replanting 2 hektar, kalau replanting itu 1 hektar 65 juta.” tegas Henny menggambarkan besarnya nilai ekonomi yang hilang akibat serangan patogen tersebut.

Kepala Riset PT Socfin Indonesia (Socfindo), Indra Syahputra, menyebut penggunaan Bahan Tanam (BT) berkualitas yang memiliki sifat moderat tahan menjadi proteksi investasi jangka panjang bagi seluruh pelaku usaha perkebunan kelapa sawit.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) kini mulai mengaktifkan kembali Konsorsium Ganoderma Indonesia guna menyusun panduan teknis pengendalian nasional serta mendorong dukungan pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).***

Bagikan :

Artikel Lainnya