CEO Smart Batik Miftahudin Nur Ihsan Ciptakan Inovasi Batik Menggunakan Lilin Malam Turunan Kelapa Sawit

CEO Smart Batik Miftahudin Nur Ihsan memperkenalkan inovasi penggunaan lilin malam berbasis kelapa sawit sebagai pengganti parafin. Terobosan ini bertujuan memperkuat hilirisasi sektor perkebunan sekaligus menciptakan lingkungan kerja lebih sehat bagi pembatik.

BERITA HAI EDUKASI SAWIT HAI INOVASI SAWIT

Arsad Ddin

11 Februari 2026
Bagikan :

Dok. YouTube Hai Sawit TV


Jakarta, HAISAWIT – Pemimpin tertinggi Smart Batik, Miftahudin Nur Ihsan, memperkenalkan terobosan baru berupa penggunaan lilin malam berbasis kelapa sawit dalam proses produksi batik tematik saat menghadiri acara Hai Podcast Sawit di Jakarta.

Langkah inovatif ini merupakan hasil kolaborasi strategis bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) guna memperkuat hilirisasi komoditas perkebunan nasional. Ihsan memfokuskan pengembangan usaha pada sektor kreatif yang memiliki nilai tambah.

Ihsan menyatakan bahwa kesadaran akan besarnya potensi kelapa sawit sebagai penyumbang devisa negara menjadi latar belakang utama dirinya terjun mengembangkan produk turunan tersebut. Fokus utamanya adalah memperluas jangkauan manfaat sawit pada industri kreatif.

“Saya punya niat untuk bisa bersama-sama mengembangkan industri sawit yang itu kalau saya mungkin akan fokus di industri hilirnya gitu karena kami menggunakan produk turunan sawit.” ujar Ihsan, dikutip dari YouTube Hai Sawit TV, Rabu (11/02/2026).

Pemanfaatan bahan baku dari sektor perkebunan ini berfungsi sebagai substitusi bahan baku konvensional yang selama ini masih mengandalkan impor. Ihsan menjelaskan posisi malam sawit sebagai solusi bagi ketergantungan industri batik terhadap bahan fosil.

“Malam sawit ini bisa jadi alternatif untuk menggantikan parafin yang selama ini digunakan untuk pembuatan lilin batik.” jelas Ihsan melalui kanal digital media sawit masa kini tersebut.

Substitusi parafin dengan produk turunan kelapa sawit terbukti memberikan dampak positif bagi kesehatan lingkungan kerja para pengrajin. Berikut adalah beberapa keunggulan teknis dari penggunaan malam berbasis sawit dibandingkan bahan baku kimia konvensional:

  • Tidak mengeluarkan aroma menyengat saat dipanaskan sehingga aman bagi pernapasan.
  • Memiliki daya rekat yang lebih baik pada media kain.
  • Menghasilkan warna yang lebih tajam dan bersih pada hasil akhir kain batik.

Inovasi tersebut memberikan pengalaman baru bagi para pengrajin batik di Yogyakarta karena sifat bahan yang lebih ramah lingkungan. Ihsan menceritakan respon positif para pembatik mengenai kenyamanan kerja saat mengaplikasikan formula baru ini.

“Dengan malam sawit ini ternyata dia enggak berbau jadi nyaman tuh pembatik, terus kemudian diaplikasikan di kain dia juga lebih lancar.,” ungkapnya saat memaparkan detail teknis produksi di hadapan moderator podcast.

Keberhasilan implementasi malam sawit tersebut mampu meningkatkan kapasitas produksi Smart Batik secara signifikan hingga mampu melibatkan lebih dari lima puluh tenaga kerja lokal. Sebagian besar pekerja merupakan ibu rumah tangga dari wilayah Yogyakarta.

Ekosistem usaha Usaha Kecil Menengah dan Koperasi (UKMK) sawit kini merambah pada pengembangan motif dan pewarna alami berbasis tanaman perkebunan. Ihsan mengakhiri penjelasan dengan menekankan pentingnya sinergi sektor hulu dan hilir nasional.

Produk Smart Batik saat ini telah dipasarkan melalui berbagai platform digital dan menjalin kemitraan dengan kementerian pusat. Inovasi ini membuktikan bahwa kelapa sawit mampu menjadi pilar pendukung kemajuan industri budaya asli Indonesia.***

Bagikan :

Artikel Lainnya