
Dok. YouTube Hai Sawit TV
Jakarta, HAISAWIT – Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof. Dr. Ir. Yanto Santosa, DEA memaparkan temuan ilmiah mengenai peningkatan populasi satwa liar di area perkebunan kelapa sawit pada Selasa (20/01/2026).
Data penelitian menunjukkan bahwa transformasi lahan marginal menjadi perkebunan justru memberikan habitat baru bagi berbagai jenis fauna. Fakta ini membantah tuduhan global yang menyebutkan bahwa komoditas unggulan Indonesia tersebut mematikan seluruh ekosistem hayati.
Yanto menjelaskan hasil riset panjangnya yang membandingkan kondisi Keanekaragaman Hayati (Kehati) pada lahan terbuka dengan perkebunan sawit. Temuan tersebut mengungkap adanya pertumbuhan positif pada kelompok hewan terbang di wilayah Kalimantan dan Sumatera.
“Saya lebih banyak meneliti tentang isu lain deforestasi yaitu bahwa kebun sawit telah mengakibatkan penurunan keanekaragaman jenis hayati baik tumbuhan maupun keanekaragaman jenis satwa liar. Dan di situ saya membuktikan bahwa memang untuk taksa burung bahkan meningkat di sawit,” ujar Yanto, dikutip dari YouTube Hai Sawit TV, Selasa (20/01/2026).
Pemanfaatan ekosistem perkebunan oleh spesies tertentu terlihat dari maraknya aktivitas budidaya sarang burung walet di sekitar area tanaman. Kelimpahan sumber pakan alami menjadi faktor utama satwa tersebut mampu berkembang biak dengan sangat baik.
“Ini kan terbukti sekarang banyak di Sumatera atau Kalimantan yang sudah membuat rumah atau sarang burung walet di kebun sawit karena di kebun sawit banyak sekali serangga yang dan hewan lain yang menjadi pakan dari burung walet,” ujarnya.
Kondisi ekologis perkebunan sawit yang memiliki sistem pengairan seperti parit serta sungai kecil turut mendukung kelangsungan hidup herpetofauna. Kelompok amfibia dan reptilia ditemukan mengalami peningkatan signifikan karena tersedianya kelembapan serta ruang jelajah.
Sebagian besar lahan sawit rakyat maupun perusahaan merupakan hasil konversi dari alang-alang serta semak belukar, bukan hutan primer. Berikut merupakan beberapa data penguatan terkait konservasi keanekaragaman hayati pada area perkebunan kelapa sawit:
- Peningkatan jumlah jenis herpetofauna pada area riparian di dalam konsesi.
- Tersedianya pakan serangga yang melimpah bagi predator tingkat menengah.
- Fungsi tajuk kelapa sawit sebagai naungan bagi vegetasi bawah.
Keberadaan tanaman sawit tidak hanya memberikan dampak finansial bagi masyarakat, tetapi juga menjalankan peran ekologi dalam menjaga keseimbangan alam. Penambahan jumlah spesies pada lahan yang dulunya terbuka menjadi bukti nyata pemulihan ekosistem.
“Selain secara ekonomi meningkat pasti, tetapi karena secara ekologi tidak merusak maka meningkatkan jumlah jenis satwa maupun tumbuhan yang di bawahnya,” tegas pakar IPB University yang juga aktif sebagai saksi ahli lingkungan tersebut.
Riset ilmiah ini memposisikan kelapa sawit sebagai tanaman yang memiliki nilai konservasi tinggi jika dikelola secara benar. Objektivitas dalam menilai data lapangan sangat diperlukan agar publik tidak terjebak pada narasi negatif tanpa bukti.
Kekayaan jenis satwa pada perkebunan menunjukkan bahwa industri ini mampu berdampingan dengan alam secara harmonis. Fakta lapangan menjadi basis utama bagi diplomasi internasional guna membela posisi tawar komoditas strategis nasional Indonesia.***